Minggu, 27 Desember 2009

DUKUNG UNTUK MEJADI WALIKOTA BEKASI 2014-2018


Gerakan Reformasi yang berhasil meruntuhkan kekuasaan otoriter rezim orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto pada tahun 1998 yang lalu telah menjelaskan posisi dan peran sejarah Mahasiswa Indoensia dalam melakukan pembaharuan dan perubahan di Indonesia. Bertolak dari realitas sosial yang rapuh sebagai akibat dari sistem kekuasaan otoriter selama 32 tahun, maka komunitas mahasiswa, selaku insan akademik yang berbasis kampus, tergerak untuk tetap menunjukan komitmen dan kepeduliannya dalam memelihara momentum perubahan hingga mencapai apa yang diamanatkan oleh hati nurani rakyat Indonesia secara keseluruhannya.

Era reformasi yang membara dalam dada seluruh mahasiswa Indonesia, mereka yang sadar akan peran sejarahnya mutlak harus didedikasikan sepenuhnya keharibaan rakyat yang merindukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sementara dampak sosial yang muncul sebagai akibat dari penerapan sistem yang berpihak, telah menempatkan rakyat tidak sebagai subyek dalam proses pembangunan, bahkan secara sistematik rakyat telah kehilangan hakekat kedaulatanya selaku stakeholder. Krisis ekonomi-moneter yang melatari runtuhnya rezim dari cita-cita menuju tatanan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan dalam ideologi negara Pancasila.

Rahmatullah,LN.,M.M.Pd adalah bagian dari perwujudan komitmen kaum muda Indonesia untuk membangun kesadaran kolektif dalam mengatasi persoalan negara bangsa, dimana komunitas mahasiswa berbasis kampus, bersama seluruh komponen bangsa, memiliki tempat untuk menyatukan derap langkah menuju perubahan yang dicitakan bersama. Melalui lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tersusun sebuah kesepakatan berlandaskan kekuatan moral generasi baru, untuk secara aktif terlibat dalam berbagai persoalan sosial yang menghimpit kehidupan rakyat pada umumnya. Secara filosofis Rahmatullah,LN.,M.M.Pd menyadari perannya untuk berpihak kepada kepentingan rakyat, terutama dari upaya sistematik pengeksplotasian rakyat.Maka itu
DUKUNG UNTUK MEJADI WALIKOTA BEKASI 2014-2018 .............!!!
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Menumbuh-kembangkankan Sikap, Sensitivitas dan Skill Untuk Menjadi Pemimpin

PERSPEKTIF DASAR

Membangun Sikap Pemimpin Yang Pantang Menyerah

Seorang pemimpin adalah seorang manusia biasa, namun ia memiliki beberapa kelebihan. Ia mampu menolong kelompoknya untuk menggali dan merumuskan visi mereka. Ia menolong mereka menggali makna keberadaan dan kerja mereka. Kemudian, ia memperoleh kepercayaan orang sehingga ia mampu mengubah dan menggerakkan pengikutnya sehingga visi mereka tercapai. Untuk melakukan hal itu berbagai rintangan dapat menghadangnya. Ia pun tidak selalu stabil dalam kekuatan kejiwaan, kebugaran tubuh dan spiritualitasnya.

Maka pertanyaan yang sering orang ajukan, mungkin juga Anda adalah : Sikap-sikap apakah yang perlu dimiliki seorang pemimpin agar ia dapat menjalankan tugasnya dan mencapai visi bersama?

Salah satu sikap yang penting bagi pemimpin adalah sikap tegar dan pantang menyerah. Untuk menumbuhkan sikap serupa itu ia perlu mengenali hal-hal yang mudah membuat orang putus asa. Salah satu hal yang dapat membuat seseorang menyerah dan ingin menutup matanya terhadap apa yang ia kejar adalah rangkaian kegagalan.

Anatomi Kegagalan

Kegagalan dapat terjadi di rumah, yaitu dalam peran kita terhadap anak, orang tua, adik atau kakak serta pasangan hidup. Kegagalan seperti ini sangat menyakitkan karena luka yang diakibatkannya terus menganga berpuluh tahun ke muka, kecuali bila kita menghadapi dan mengalami pemulihan.

Kegagalan dapat juga terjadi dengan hidup karir seseorang. Banyak pria bekerja keras karena takut gagal dalam karirnya. Kegagalan ini dapat berupa kehilangan pekerjaan, kerugian yang sangat besar, atau kesalahan fatal yang menyusahkan banyak orang yang mempercayakan diri padanya. Kegagalan dapat terjadi karena suatu target tidak tercapai.

Kegagalan lain ialah kegagalan di dalam memupuk hubungan dengan orang lain, entah dengan calon pasangan, sahabat dekat, atau rekan-rekan yang dikenal.

Ketika seseorang masih muda, kegagalan dapat terjadi di dalam hidup sekolahnyanya, atau dalam mencapai prestasi akademik.

Dapat juga kegagalan hadir berupa suatu kegagalan fisik, yaitu kegagalan dalam memelihara kebugaran, kesehatan atau pemulihan.

Kabar baik bagi kita mengenai kegagalan adalah bahwa sebagian besar para pemimpin yang akhirnya mendapatkan sukses telah mengalami rangkaian berbagai-bagai kegagalan yang serius. Tidakkah intan adalah suatu batu bara yang terus menerus mendapat tekanan tinggi untuk waktu yang lama? Tanpa tekanan tadi, maka intan tidak akan terbentuk.

Kegagalan atau kejatuhan dalam kamus Webster dijelaskan sebagai kekurangan, kehilangan, tidak memadai, bangkrut, atau tidak mencapai harapan dan target.

Penyebab kegagalan dapat datang dari lingkup internal diri. Seorang dapat gagal karena ia tidak memiliki keterampilan, atau karakter, atau komitmen yang memadai untuk apa yang ia ingin capai. Mungkin ia sangat sulit beradaptasi pada perubahan baru. Dapat juga karena ia tidak memiliki visi yang jelas sehingga orangpun mengalami kesulitan untuk mengikuti dirinya.

Kegagalan dapat terjadi karena suatu peristiwa eksternal. Suatu perang, perubahan keadaan yang tidak terkirakan oleh ahli-ahli sekalipun, atau keadaan yang tidak terkendali seperti gempa bumi dan gunung meletus.

Menurut Ralph Waldo Emerson, “Saat seseorang mengalami tekanan, aniaya, dan kekalahan, sebenarnya ia mendapat suatu kesempatan untuk mendewasakan dirinya dengan mempelajari berbagai fakta, keacuhannya, kecongkakannya dan akhirnya ia sadar untuk memiliki sikap dan ketrampilan yang nyata.”

Henry Ford juga mengatakan bahwa setiap kegagalan akan memberi kesempatan kita untuk memulai kembali dengan lebih cerdas.

Siklus kegagalan atau pembelajaran?

Anda perlu mengenali bahwa sebelum suatu kegagalan terjadi, beberapa tanda-tanda dini akan muncul. Tugas kita adalah mengenali dan berupaya mengubahnya atau menerimanya. Contoh tanda-tanda dini adalah lambatnya suatu kemajuan yang diprediksi sebelumnya, keterlambatan-keterlambatan yang berulang, atau luputnya berbagai penanganan hal penting. Inilah tahap pertama dari proses kegagalan.

Bila hal itu tidak tertangani, maka muncullah tahap kedua. Pada tahap ini kegagalan dapat muncul secara mendadak atau dapat juga hadir berangsur-angsur. Pada tahap ini, mungkin kita tidak bersedia menerima kenyataan tadi, bahkan bergulat menanganinya, sampai akhirnya kita tidak mampu mengendalikan respon-respon emosi kita.

Pada tahap ketiga, keterkejutan karena kegagalan ini dapat menggoyahkan diri kita. Secara emosional kita berada pada kelelahan dan meluncur terus ke titik nadir. Mudah sekali pada saat ini kita mempersalahkan diri atau mencari kambing hitam. Inilah mekanisme sebagian besar orang dalam menghadapi kegagalan. Bahkan seorang nabi, Elia di Perjanjian lama ingin terus tidur dan tidak bangun kembali karena kegagalannya. Akhirnya pada tahap ini muncullah rasa putus asa dan ingin menyerah. Bentuknya entah dengan merusak diri, memusnahkan semua hasil yang telah dicapai, meninggalkan jalan yang sudah ditempuh, atau berhenti sama sekali dari segala hal.

Pada tahap keempat, terjadi kemungkinan untuk menerima kenyataan pahit yang sudah terjadi, kemudian melakukan konsolidasi. Kondisi saat ini adalah adalah bagaikan sebuah desa yang merapihkan bekas-bekas badai yang sudah menimpa mereka dan memporakporandakan segalanya. Hal ini dapat dihambat bila kita terus menerus berandai-andai “Kalau saja aku tidak melakukan ini dan itu, maka mungkin kepahitan ini tidak perlu terjadi...”

Tahap akhir, rekonsiliasi dan kepulihan terjadi. Kita belajar merenungkan kegagalan tadi dan menggali dari dalamnya hal-hal baru dan bekal yang lebih baik untuk melangkah kembali. Berbagai pertanyaan muncul dengan jelasnya, dan kita menganalisis hal-hal internal diri kita dan hal-hal di lingkungan hidup kita. Inilah buah dari kegagalan: kita belajar dan bertumbuh.

Mitos pertama: Gagal di dunia pendidikan berarti gagal dalam hidup

Salah satu tekanan yang seringkali calon pemimpin harus tanggung di masa mudanya adalah suasana belajar di lembaga pendidikan. Mitos di dalam dunia ialah bila seseorang gagal di dunia pendidikan, maka ia tidak akan berhasil mengerjakan apapun di dalam hidupnya. Kata-kata serupa itulah yang kerpa kali didengar oleh Albert Einstein di masa remajanya. Tidak heranlah mengapa akhirnya ia meninggalkan sekolah pada usia 15 tahun, kemudian mempelajari kalkulus sendiri. Demikian juga Soichiro Honda, yang kini hasil inovasinya merajai seluruh pasar kendaraan bermotor di dunia.

Hal yang serupa terjadi dengan pembuat Walkman, Akio Morita yang terus menerus membuat guru dan orang tuanya was-was karena obsesinya pada musik dan seringnya ia membolos.

Pemiliki AJBS dari Surabaya, suatu perusahaan retail alat-alat pertukangan atau keperluan rumah serupa ACE Hardware, tidak pernah menyelesaikan sekolah menengahnya. Namun, ia berhasil mendirikan suatu Institut bagi staf nya yang dipimpin oleh Anita Lee, seorang wanita luar biasa cerdas dan lulusan program doktoral dari USA. Sementara itu perusahaannya terus berkembang di Asia tenggara walaupun tantangan mereka tidak mudah dan biayanya besar.

Mitos kedua: Orang yang terus menerus gagal berarti sudah gagal total.

Honda, Thomas Alfa Edison dan Abraham Lincoln adalah tiga contoh manusia yang terus menerus mengalami kegagalan, namun tidak pernah berhenti mencoba kembali. Mereka pantang menyerah.

Honda mempertahankan bengkelnya yang hampir amblas dengan menggadaikan perhiasan istrinya. Setelah ia memiliki suatu pabrik yang baik, produknya ditolak karena pemerintah Jepang pada waktu itu sedang terobsesi untuk berperang. Ketika pabrik tadi beroperasi, ia mengalami shock. Pabrik itu terbakar. Honda tetap tidak berputus asa. Pabriknya dibangun kembali dan tiba-tiba terbakar sekali lagi.

Ketika ia membangun kembali pabrik tadi, gempa bumi melanda Jepang, dan pabriknya luluh lantak.

Dalam suatu peristiwa, ia mengalami kekurangan bahan bakar untuk kendaraannya. Maka ia menghubungkan sebuah mesin dengan sepedanya dan ia mulai meluncur. Sejak itu, motor Honda mulai memasuki dunia modern. Honda akhirnya memiliki Honda Motor yang kini merupakan penghasil sepeda motor terbesar di dunia.

Soichiro Honda mengatakan bahwa keberhasilan hanya dapat diraih bila kita sudah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan berulang kali. Sebab itu ia memiliki hampir lima ratus penemuan dan 150 an hak paten.

Thomas Alfa Edison menemukan banyak hal, namun ia terus terobsesi menghasilkan suatu lampu pijar dengan kekuatan arus listrik. Dengan telinga yang sering terkena infeksi serta saluran pernafasan yang tidak bugar, ia terus bekerja.

Ia juga tidak ragu mecoba alur pemikiran yang tidak dihiraukan orang lain. Salah satu percobaannya ialah menghubungkan ekor dari dua kucing serta menggosokkannya agar timbul listrik statis. Hasilnya, wajahnya penuh bekas cakar kucing tadi. Ia bahkan pernah mengerami telur dengan duduk terus menerus di atasnya.... entah binatang apa yang dihasilkannya.

Ketika berulang kali gagal sampai 1800 kali dalam menemukan lampu pijar, orang mempertanyakan mengapa ia terus mengejar hal itu. Mengapa ia belum tiba pada kesimpulan bahwa ia sudah gagal total dan meneliti hal yang lain saja. Dengan tenang ia menjawab: “Aku sudah berhasil menemukan 1800 penemuan yang gagal. Hanya tinggal tunggu waktu, penemuan yang berhasil akan muncul juga.” Akhirnya Edison berhasil.

Abraham Lincoln gagal dalam hidup pribadi, keluarga, dan karirnya. Demikian gambaran yang kita dapatkan kalau kita mengamatinya tiga tahun sebelum ia menjadi presiden Amerika. Namun orang eksentrik yang melankolis ini akhirnya menghasilkan perubahan sejarah yang sangat radikal: perbudakan di hapuskan. Ketika gereja, para pengkotbah, ahli filsafat, peneliti ilmiah dan pedagang menghindari masalah ini, Abraham Lincoln terjebak di dalamnya, dan mengubahnya. Karena sekian banyak kegagalan yang ia telah alami, tentunya kalau hal inipun gagal, ia tidak perlu merasa canggung dan takut.

Carl Jung, sang psikolog mengatakan “Kegagalan merupakan pengalaman yang tidak ternilai dimana manusia dipaksa menelusuri jalan untuk mendapatkan kebenaran dan mengubah pandangan hidup serta metodenya. Kata-kata ahli ilmu jiwa ini selaras dengan kata-kata Edmund Hillary, sang penakluk Himalaya “Bukan gunungnya yang kita taklukkan, tetapi diri kita sendiri yang kita kalahkan.”

Bersikap menyerah atau bertahan ?

Suatu badai kehidupan di dalam hidup seorang pemimpin berpotensi menjadikan akar spiritualnya semakin dalam. Bila hal ini terjadi, akibatnya ia semakin kuat di dalam sikap kepemimpinan, skil, sensitivitas dan sistem thinkingnya. Sebaliknya, ada juga pemimpin yang gagal dan tercabut akar lalu melarikan diri dari tanggung jawab serta idealismenya karena badai tadi. Apa yang membuat ke dua jenis manusia tadi berbeda?

Berdasarkan teori Adversity Quotient yang terkenal, seorang pemimpin yang gagal dan menyerah memiliki beberapa ciri yang serupa

Pertama, pemimpin yang menyerah memiliki suatu persepsi tertentu tentang hidup. Mereka cenderung merasa tidak mampu dan tidak memiliki kendali terhadap apa yang terjadi di sekitar diri mereka atau yang menimpa mereka. Mereka akan mengatakan “Orang lain juga tidak mungkin mengubah keadaan ini.” Arif Budiman sendiri pernah menuliskan tentang Suharto “Kingkong koq dilawan,” sebelum ia hijrah ke Australia. Columbus dan Amerigo Vespuci, dua pengelana juga mengalami ejekan orang lain “Tak mungkin orang melewati Tanjung Harapan dan mengelilingi dunia, karena di ujung dunia iru kapal akan jatuh.”

Daya juang mulai dengan: Memiliki kendali,merasa bertanggung jawab, menyadari batas akibat kesulitan, dan daya tahan terhadap keadaan tak nyaman.

Sebaliknya ada orang yang menganggap bahwa sampai taraf tertentu, mereka memiliki kendali atas hidup. Kemudian, ada juga yang menganggap bahwa kendali terhadap apa yang terjadi tergantung pada keadaaan, faktor x atau kebetulan belaka. Akhirnya ada orang yang menganggap bahwa kendali segala sesuatu terletak pada tangan orang lain. Pemimpin yang mudah menyerah menganggap baik kesulitan maupun keberuntungan terjadi karena kendali orang lain atau keadaan kebetulan saja.

Pemimpin yang berhasil dan pantang menyerah memahami bahwa dalam apapun yang terjadi ia memiliki suatu kendali walaupun mungkin hanya terbatas. Contoh yang menarik dari sejarah dunia memperlihatkan banyak tokoh yang berhasil seperti itu, misalnya Mohandas Karamchand Gandhi yang diperkirakan tidak akan berhasil melawan kuasa ekonomi, budaya, dan politik penjajah India, yaitu Kerajaan Inggris. Martin Luther King Junior juga berhasil mengendalikan keadaan yang sangat sulit dan berabad-abad tidak dapat dianggap mungkin berubah. Sesulit-sulitnya situasi, sekurangnya seseorang dapat mengendalikan keadaan dengan memilih menyerahkan masalahnya ke tangan Tuhan. Tidakkah Ia sendiri mengatakan bahwa kepada setiap orang yang percaya pada Anaknya akan diberikan Kuasa (Yoh 1: 12)?

Ciri-ciri orang-orang serupa itu adalah dari kata-kata dan gambar mental di benak mereka:

“Ini sulit sekali, namun saya pernah menghadapi keadaan yang lebih sulit dari ini.”

“Pasti masih ada yang dapat saya lakukan dalam situasi ini.”

“Selalu ada jalan dimana ada kemauan.”

“Siapa yang berani, lebih mungkin menang.”

“Saya harus belajar menemukan cara lain.”

Kedua, pemimpin yang mudah menyerah cenderung mempersalahkan diri sendiri untuk suatu rintangan, kesalahan atau kerugian yang terjadi. Sebaliknya, pemimpin yang pantang menyerah menganggap bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk kesulitan yang ada namun juga untuk bertanggung jawab atas responsnya terhadap kesulitan itu. Kalaupun kerugian itu begitu besar dan tak terhindarkan, tetap ia memiliki sebagian tanggung jawab untuk terjadinya hal tadi.

Mengapa ia tidak mempersalahkan diri lalu mengecilkan dirinya? Mengapa ia tidak membuat gambaran negatif tentang dirinya walaupun ia jelas melakukan kesalahan? Ia membentuk suatu sikap tertentu yaitu, menyadari bahwa seorang pemimpin selalu tidak pernah bebas dari kesalahan. Semakin luhur, semakin besar, dan semakin bermakna visinya, semakin banyak serta kuat tantangan dan kesulitan serta kesalahan yang ia buat. Namun, pemimpin sejati tidak tenggelam dalam kesalahan atau rintangan namun belajar daripadanya, menjadi lebih kuat dan bijaksana.

Ketiga, pemimpin yang mudah menyerah cenderung merespon kegagalan, kerugian atau kesulitan yang terjadi sebagai sesuatu yang berakibat permanen atau berimbas ke seluruh aspek hidupnya. “Celaka. Kerugian ini membuat seluruh upaya kita menjadi sia-sia,” demikianlah ia merumuskan keadaannya. Pemimpin yang pantang menyerah bersikap sebaliknya. Ia akan mempersepsi kerugian atau kesulitan tadi sebagai suatu insiden yang memiliki jangkauan akibat yang terbatas. Ia menganalisis jangkauan kerugian tadi dan menerimanya dengan kepala dingin serta realistis, kemudian menanganinya. Dengan sikap serupa ini ia tidak membuang-buang waktu di dalam keputus-asaan.

Keempat, pemimpin yang gagal tidak bertahan lama, karena enerjinya tidak stabil dan ia temperamental. Pemimpin yang pantang menyerah terus bertahan karena ia melihat makna pekerjaannya dalam jangka waktu yang panjang. Ia melihat dirinya sebagai seorang pendaki yang terus bergerak perlahan menuju puncak gunung. Sesekali mungkin ia beristirahat, namun hal ini adalah dalam rangka agar perjalanannya terus berlanjut. Ia tidak mau sekedar mendaki sampai ke puncak lereng dan berkemah disana saja. Ia juga tidak mau mundur dan turun kembali dari rancangan pendakiannya sesulit apapun jurang, tebing, dan kerikil yang ia hadapi.

Bagaimana kita dapat menjadi pemimpin dengan ciri-ciri sikap serupa itu? Salah satu cara adalah dengan mengenali segala kesulitan dan tantangan serta kegagalan seraya mengenali potensi yang ada dan daya radiasinya.

Potensi diri dan Dua Jenis Hambatan

Cara terbaik untuk Anda mengatasi kegagalan dan menjadi manusia yang bersikap pantang menyerah ialah terutama, belajar mempercayakan diri bahwa Ia telah yang memilih Anda untuk melayaninya sebagai pemimpin, akan melengkapi diri Anda dengan visi, perbekalan dan pembelajaran yang bertahap sehingga akhirnya akan menerima mahkota kemenangan.

Di depan kita telah berbaris mereka yang sudah melakukan hal tadi. Orang-orang seperti Yonatan Parapak di Indosat, Handel yang ketika lumpuh sebelah menyelesaikan Messiahnya, atau Martin Luther King Jr yang terkenal dengan kotbahnya „I have a Dream“ yang disampaikan di depan 250 ribu orang menjadi teladan.

Mereka menyadari bahwa tiap kita telah menerima anugrah yang besar. Namun banyak di antara kita tidak menggali dan menggunakannya. Kita adalah bagaikan seorang ibu yang tiap tahun menerima selembar check dari putra tunggalnya yang studi di luar negeri. Pada suatu hari setelah terpisah sepuluh tahun, sang putra mengunjungi ibunya. Ia terkejut karena wanita itu tampak lelah dan semakin renta. Rumahnya bocor dan dapurnya sudah tidak berfungsi baik. Ketika ia menanyakan apa yang terjadi sang ibu mengeluh, “Putraku yang hebat sudah melupakan ibunya yang tidak berpendidikan dan tinggal di desa. Ia tidak pernah membantuku. Cuma gambar-gambar aneh yang dikirimkannya setiap tahun...“ Sang putra terperangah, di sudut meja kecil, setumpuk check bernilai 1 milyar rupiah tetap tidak diuangkan.

Tuhan memberikan banyak potensi, tapi sebagian besar dari manusia mungkin hanya hidup dengan 20 persen potensi itu. Mereka tidak menyadari berbagai daya radiasi besar yang dimilikinya. Ketika kesulitan datang, mereka menyerah.

Memang ada dua macam sikap manusia di dalam menyadari potensi tadi.

Pertama, mereka mengenali potensi tadi namun, perhatiannya lebih tertuju pada kesulitan, kegagalan, dan hambatan. Karenanya mereka memilih untuk diam atau tidak berbuat banyak. Pilihan ini membuat mereka semakin merasa kecil dan tidak berdaya, sedangkan kesulitan mereka dan juga kegagalan dilihatnya semakin membesar.


Pilihan kedua, mereka mengenali potensi mereka dan kesulitan yang dihadapi. Mereka mulai memilah kesulitan yang ada menjadi kesulitan yang dapat ditangani, serta kesulitan yang hanya dapat diterima atau dijadikan keprihatinan. Dengan pemilahan ini mereka mulai memasukkan tiap-tiap tantangan yang menghambat terwujudnya potensi mereka ke dalam dua kategori tadi dan mulai menggarap kesulitan yang dapat ditanganinya. Semakin mereka berhasil di dalam kategori ini maka potensi mereka menjadi membesar. Akhirnya, jangkauan kesulitan yang jadi keprihatinan sekarang karena dengan potensi yang besar ini mereka dapat menjadikannya kesulitan yang dapat ditangani.